Kusuma kalbu
kaulah bidadari yang diwartakan zaman
yang sanggup mencintaiku sepanjang masa
teduh wajahmu adalah tempatku
satu-satunya menumpahakan keluh
terimakasih atas segala peluh dan air mata
yang menghantarkanku menapaki cita-cita
darahku adalah darahmu yang bersimbah sejarah
nafasku adalah hembusah ikhlasmu yang pasrah terluka
mataku adalah buah kasih sayangmu yang tak terhingga
pendengaranku adalah tutur tindak tandukmu yang menjelma gita doa
sejak aku menginjak tanah
tak sedikitpun engkau lengah
untuk mencurahkan
segala rasa sayang yang kau punya
sejak aku berjalan
engkaulah manusia pertama
yang tak menghendaki siapa saja
membuatku terluka
bahkan engkau pernah murka kepada tanah
menghardiknya
padahal kakiku yang masih layu
belum kuat menyanga beban diriku
sejak aku sekolah
aku sudah tau huruf dan angka
sebab engkaulah guru pertama
yang menanam ilmu dengan tulus luar biasa
dan banyak sejak sejak
yang mengkin bisa berjuta kata jika aku sajakkan
sebab karnamulah segala kata-kataku di mulai
dan engkaulah puisi hati paling abadi
@aliefirfan
Jenu 12 maret 2019
ibu
maafkan aku atas semua tingkah
yang selalu membuat mu marah
ibu ...
ku selalu teringat kasih mu kala ranting ranting pohon yang engkau berikan di tubuhku
ibu ...
ku tahu bahwa engkau selalu menginginkan aku melakukan kebaikan seperti dirimu
namun apa daya diriku yang selalu membuat gelisah hatimu
ibu ...
maafkanlah diriku atas semua tingkahku.
@Hasan besari
Jenu, 12 Maret 2019
🌹kasih tak rindu balas
ibu...
sebuah kata penuh makna..
ia bak mentari bagiku..
terkadang ia rembulan...
pernah pula menjelma pelangi...
ia seorang guru..
terkadang ia dokter...
bahkan seorang koki...
terimakasih ibu...
untuk tiap kasih dan sayangmu...
yang tak pernah merindukan balas...
untuk peluh yang membanjiri harimu...
untuk tiap derai air mata yang jatuh atas nama doa ketulusan....
ibu...
tetaplah sekuat ini
meski ragamu mulai menua...
tetaplah menjadi segalaku...
meski senjamu mulai menyapa....
@Iffah Qoyyumillah
Gresik, 12 maret'19
Maafkan Aku Ibu
Ibu
Kau laksana baskara di pagi hari
Hangat dan menenangkan
Setiap kali menatap matamu
Rasa gelisah seketika berlalu
Ibu
Ku tahu ridho Allah ada pada keridhoanmu
Pun ku tahu murka Allah adalah karena murkamu
Namun sering kali lisan ini menjadi sebab jatuhnya air matamu
Tak tahu lagi cara menarik kata
Lisan ini sudah terlanjur mengucap pahitnya kata
Hingga wajahmu berlinang air mata
Dan akhirnya mulut ini hanya mampu berucap kata maaf yang sebesar-besarnya
Siti Annastia Valentina
Jenu, 12 Maret 2019
Alif dan Ummi
Kau, Alif....
Tegak membubung bak tiang,
Cegak tiada menyimpang
Dari kesekian kau adalah Penopang.
Kau, Alif....
Muasal isim alam
Melafal ummi dengan dalam
Dengan tasydid yang terpampang,
Kau teguhkan ia menekan pendirian
Bak Alif....
Ummi yang menopang dalam kesedihan
Ummi yang berdiri mengedepankan
Kukuh tanpa mengeluh telah ditasydidkan
Alif yang canak menjulang
Ummi yang tiada patah juang
Pendidik utama sedari buah hati ditimang
Tak jarang ia bermandi peluh
Tak jua ia sempat mengeluh
Meski tersayat jiwa tersedu-sedu
Ummi ; kebahagiaan wajib di nomor satu.
@nilafrilia
Tuban, 1203'19
Bunda Tersayang
Dalam peluh kau mengandung
Tak kenal lelah melawan resah
Tak juga mengeluh meski rapuh
Limbung terasa saat kau terjatuh
Larut dalam kesakitan engkau mengaduh
Oh Bunda Tersayang
Yang membesarkan dan menjadi panutan
Meski menua di makan usia
Kau tak juga hapuskan cinta
Kasih mu sepanjang masa
Wahai Pemilik Alam Semesta
Sudikah Engkau menjaga bunda
Selalu saat aku tak di sampingnya
Agar dapat ku lihat senyumnya
Merekah menentramkan jiwa
Rentang waktu yang kian berjalan
Buat ku semakin cepat meninggalkan
Saat tuan telah meminang
Selesai sudah tugasnya melarang
Serta menemani ku setiap malam
Andai waktu bisa ku putar ulang
Ingin ku tetap menjadi balita
Agar dapat selalu ku rasakan dekap hangatnya
Terima kasih selalu ada sampai aku dewasa
@rahmaproject01
Tuban, 12 maret 2019
Terimakasih kepada ke-6 penyair :
kaulah bidadari yang diwartakan zaman
yang sanggup mencintaiku sepanjang masa
teduh wajahmu adalah tempatku
satu-satunya menumpahakan keluh
terimakasih atas segala peluh dan air mata
yang menghantarkanku menapaki cita-cita
darahku adalah darahmu yang bersimbah sejarah
nafasku adalah hembusah ikhlasmu yang pasrah terluka
mataku adalah buah kasih sayangmu yang tak terhingga
pendengaranku adalah tutur tindak tandukmu yang menjelma gita doa
sejak aku menginjak tanah
tak sedikitpun engkau lengah
untuk mencurahkan
segala rasa sayang yang kau punya
sejak aku berjalan
engkaulah manusia pertama
yang tak menghendaki siapa saja
membuatku terluka
bahkan engkau pernah murka kepada tanah
menghardiknya
padahal kakiku yang masih layu
belum kuat menyanga beban diriku
sejak aku sekolah
aku sudah tau huruf dan angka
sebab engkaulah guru pertama
yang menanam ilmu dengan tulus luar biasa
dan banyak sejak sejak
yang mengkin bisa berjuta kata jika aku sajakkan
sebab karnamulah segala kata-kataku di mulai
dan engkaulah puisi hati paling abadi
@aliefirfan
Jenu 12 maret 2019
ibu
maafkan aku atas semua tingkah
yang selalu membuat mu marah
ibu ...
ku selalu teringat kasih mu kala ranting ranting pohon yang engkau berikan di tubuhku
ibu ...
ku tahu bahwa engkau selalu menginginkan aku melakukan kebaikan seperti dirimu
namun apa daya diriku yang selalu membuat gelisah hatimu
ibu ...
maafkanlah diriku atas semua tingkahku.
@Hasan besari
Jenu, 12 Maret 2019
🌹kasih tak rindu balas
ibu...
sebuah kata penuh makna..
ia bak mentari bagiku..
terkadang ia rembulan...
pernah pula menjelma pelangi...
ia seorang guru..
terkadang ia dokter...
bahkan seorang koki...
terimakasih ibu...
untuk tiap kasih dan sayangmu...
yang tak pernah merindukan balas...
untuk peluh yang membanjiri harimu...
untuk tiap derai air mata yang jatuh atas nama doa ketulusan....
ibu...
tetaplah sekuat ini
meski ragamu mulai menua...
tetaplah menjadi segalaku...
meski senjamu mulai menyapa....
@Iffah Qoyyumillah
Gresik, 12 maret'19
Maafkan Aku Ibu
Ibu
Kau laksana baskara di pagi hari
Hangat dan menenangkan
Setiap kali menatap matamu
Rasa gelisah seketika berlalu
Ibu
Ku tahu ridho Allah ada pada keridhoanmu
Pun ku tahu murka Allah adalah karena murkamu
Namun sering kali lisan ini menjadi sebab jatuhnya air matamu
Tak tahu lagi cara menarik kata
Lisan ini sudah terlanjur mengucap pahitnya kata
Hingga wajahmu berlinang air mata
Dan akhirnya mulut ini hanya mampu berucap kata maaf yang sebesar-besarnya
Siti Annastia Valentina
Jenu, 12 Maret 2019
Alif dan Ummi
Kau, Alif....
Tegak membubung bak tiang,
Cegak tiada menyimpang
Dari kesekian kau adalah Penopang.
Kau, Alif....
Muasal isim alam
Melafal ummi dengan dalam
Dengan tasydid yang terpampang,
Kau teguhkan ia menekan pendirian
Bak Alif....
Ummi yang menopang dalam kesedihan
Ummi yang berdiri mengedepankan
Kukuh tanpa mengeluh telah ditasydidkan
Alif yang canak menjulang
Ummi yang tiada patah juang
Pendidik utama sedari buah hati ditimang
Tak jarang ia bermandi peluh
Tak jua ia sempat mengeluh
Meski tersayat jiwa tersedu-sedu
Ummi ; kebahagiaan wajib di nomor satu.
@nilafrilia
Tuban, 1203'19
Bunda Tersayang
Dalam peluh kau mengandung
Tak kenal lelah melawan resah
Tak juga mengeluh meski rapuh
Limbung terasa saat kau terjatuh
Larut dalam kesakitan engkau mengaduh
Oh Bunda Tersayang
Yang membesarkan dan menjadi panutan
Meski menua di makan usia
Kau tak juga hapuskan cinta
Kasih mu sepanjang masa
Wahai Pemilik Alam Semesta
Sudikah Engkau menjaga bunda
Selalu saat aku tak di sampingnya
Agar dapat ku lihat senyumnya
Merekah menentramkan jiwa
Rentang waktu yang kian berjalan
Buat ku semakin cepat meninggalkan
Saat tuan telah meminang
Selesai sudah tugasnya melarang
Serta menemani ku setiap malam
Andai waktu bisa ku putar ulang
Ingin ku tetap menjadi balita
Agar dapat selalu ku rasakan dekap hangatnya
Terima kasih selalu ada sampai aku dewasa
@rahmaproject01
Tuban, 12 maret 2019
Terimakasih kepada ke-6 penyair :
- Alief irfan
- Hasan besari
- Iffah Qoyyumillah
- Siti Annastia Valentina
- nilafrilia
- rahmaproject01

Komentar
Posting Komentar