11.Iffah Qoyyumillah
Adzan
lantang terdengar...
fasih terngiang...
meneduhkan jiwa yg lelah...
menjernihkan nalar-nalar yg keruh....
bait bait nya sarat akan arti...
panggilan rindu sang maha segala...
lalu...
akankah kita kemudian mendengar dg hati???
gema suara adzan...
lantang diperdengarkan..
berkoar syahdu diantar cerobong2 menjulang...
membelah hiruk pikuk duniawi...
lantas, apa kita beranjak??
apa kemudian bergegas menghampiri??
atau malah tak perduli
bahkan pura-pura tuli...
@iffah qoyyumillah
Gresik, 06 maret 2019
01
Altruis
Aku sangat rela engkau memilihnya
Sebab rasa yang bernah hinggap didada
Hanya hamba dari cinta
Yang mendambamu selalu bahagia
Memang butuh sepasang hati demi membangun cinta yang utuh
Namun aku lebih tahu jika yang kau inginkan bukanlah aku
Mari aku antar kau menjemput kekasihmu
Jika dia berada disebrang pulau
Izinkan aku sebagai perahu
Yang bisa kau pijak menuju cinta itu
Jika kekasihmu berada di puncak gunung
Biarkan diriku hancur berkeping
Taburkan dalam setiap perjalanan
Agar yang kau pijak tidak akan licin
Jika kekasihmu beradi dasar sumur
Biarkan aku jadi tambang yang bisa kau tarik ulur
Untuk mendapatkan cinta yang subur
Jika kekasihmu berada di dalam goa
Biarkan aku menjadi obor yang hangus terbakar
Demi menghalau kegelapan
Penghalang cinta yang kau inginkan
@Alief Irfan
06 Maret 2019
Laku lancung
Layu tanam ditinggal kenang
Manis paras didepan wajah, masam muka dibalik raga
Tipu daya melebur di mana-mana
Ketidak tahuan selayak keuntungan
Kepuasan satu jiwa dengan ribuan korban,
Mulai meramban.
Apa hendak dilakukan?
Satu kebenaran yang disalahkan jutaan
Sedang, membuka fana teramat tak memungkinkan
Haruskah diam?
Dengan bermiliyar kata yang dikamuskan
Atau ungkapkan?
Dengan akhir penuh cacian
Sebab tak ada kepercayaan yang belum diberikan.
....
@nilafrilia
Tuban, '190306
Kekasihku, Angin
Dinginmu, sebuah arti dari keanggunanmu
Sepoianmu, sebuah arti dari kemolekanmu
Diam mu, sebuah arti dari kesopananmu
Siapa yang tahu bahwa kau juga punya rasa kesal
Kecewa begitu besar
Capek yang berkelanjutan
Juga, amarah yang menggelegar
Kekasihku,
Lihatlah aku yang sedang memujimu
Lihat juga aku yang sesekali merendahkanmu
Sebegitu cintakah dirimu pada makhluk hina ini
Sebegitu sabarkah dirimu pada makhluk menjijikkan ini
Angin...
Bahkan kau sendiri yang mengajarkannya
Caramu yang begitu mempeseona
Mengindahkan segala cara untuk membalaskan semua rasa
Kekasihku, Angin
Menunduklah demi kedamaian yang abadi
Bergerak cepatlah, jika kau rasa itu membela diri
@Kameylisha
Jenu, 06 Maret 2019
POL itik
Demi berlayarnya kapal tua
Perebutan kedudukan di peradukan
Huru-hara dimana mana
Terngiyak dikepala membudak otak hingga ke ubun senja
Siang jadi malam
Malam jadi siang
Tak pernah mengenal istirahat
Hingga kesehatan diri tersayat
Acuh tak acuh
Tindih saling tindih
Tak mengingat kau saudara karya sang illahi
Nahkodakan kapan tua ini sesuai ridho illahi
Agar kau tak diperbudak kerakusan hati
-Teruntuk calon wakil rakyatku
(Oleh:choirul Amin)
06. IMAM SAROZI
Aku mencintai mu, nusantara
Aku ber ijtihad menafsirkan segalanya tentangmu
Hamba dari sekian pengagummu
Fakir dari sekian dermawan yang lebih dahulu meminangmu
Dari setiap jengkal tubuhmu
Kudapati detak jantung para Sufi
Berdzikir "Ya robbi hadha baiti"
Kudapati cinta dalam darahmu
Dari sepasang matamu
Ku temui kobaran api belum surut redam
Tekad dan hasrat ingin terwariskan
Rahmatan lil a'lamin tertunaikan
Alif lam mim
Demi cinta diatas segalanya
Aku menerimamu tanpa dusta
Ku putuskan tinggal disetiap ingatanmu
Menggali merah putihnya desir jantungmu
Allahu akbar, kau indah dari segalanya yang paling indah
Alif lam mim
Demi kasih diatas segalanya
Aku menerimamu tanpa dusta
@IT's
Rabu, 06 maret 2019
12
Tak sia sia
Mengenalmu bukanlah suatu kesia-siaan belaka
Karenamu aku lebih mengenal Tuhan
Denganmu aku mampu melangkah lebih baik
Bersamamu aku mencium bau kerinduan surga
Pertemuan kita tak sia-sia
Kebersamaan singkat kita membuatku bahagia
Mengenalmu adalah anugerah terbesar dalam hidupku
@Rouchel Amal
Tulungagung, 6 Maret 2019
Kare Rajungan
Kuning lekat harum dan wangi
Rajungan sedap kian berenang
Membuat mata tergoda iman
Menyeduh kuah melayang-layang
Kare rajungan santap di siang hari
Aroma sedap lupa kawan
Menebur lesu di pucuk perut
Perut bernyanyi menagih lapar
Daging supit putih kenyal
Kaldu bumbu pelengkap nikmat
Belai manis badan rajungan
Lidah menari-nari perut kenyang
Fastaqibul Khoirot
Jenu, 0603'19
RINAI
Awan itu masih Setia dengan ribuan rinainya
Jatuh bersama sejuta kerinduan
Membasahi setiap helai daun yang menari
Gemerincing rinainya mengalun lembut
Tersusun menjadi irama kerinduan
Sang awan semakin sendu
Langitpun dijubahi dengan hitam pekat
Rinainya tak lagi sama
Iramanyapun berbeda
@IndahKurnia
Jenu, '060319

Komentar
Posting Komentar